Kamis, 12 Juni 2014

Pedagogi dan Andragogi


Halo, kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang pedagogi dan andragogi yang terkait dengan tugas dari mata kuliah psikologi pendidikan :)

Sebelum saya ceritakan pengalaman saya, mari kita bahas sebentar pengertian dari pedagogi dan andragogi. Apasih pedagogi dan andragogi itu?

Paedagogi berasal dari bahasa Yunani (παιδαγωγέω paidagōgeō; dari παίς país:anak dan άγω ági: ) atau paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Di Yunani kuno, kata παιδαγωγός biasanya diterapkan pada budak yang mengawasi pendidikan anak majikannya. Termasuk didalamnya mengantarkan ke sekolah (διδασκαλείον) atau tempat latihan (γυμνάσιον), mengasuhnya, dan membawakan perbekalannya (seperti membawakan alat musiknya). Paedagagos berasal dari kata “paid” yang artinya “anak” dan “agogos” yang artinya “memimpin atau membimbing”. Darikata ini maka lahir istilah paedagogi yang diartikan sebagai suatu ilmu dan seni dalam mengajar anak-anak. Dalam perkembangan selanjutnya istilah paedagogi berubah menjadi ilmu dan seni mengajar. Paedagogi juga merupakan kajian mengenai pengajaran, khususnya pengajaran dalam pendidikan formal. Dengan kata lain, ia adalah sains dan seni mengenai cara mengajar di sekolah.

 

Istilah andragogi diambil dari bahasa Yunani. andr dan agogo. Andr artinya dewasa dan agogo berarti membimbing atau mengamong. Jadi, andragogi adalah kegiatan membimbing atau mengamong orang dewasa. Sejak tahun tujuh puluhan, andragogi diberi arti sebagai ilmu dan seni untuk membantu orang dewasa belajar (andragogy is the science and arts of helping adults learn). Andragogi merupakan proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu struktur pengalaman belajar. Istilah ini awalnya digunakan oleh Alexander Kapp, seorang pendidik dari Jerman, pada tahun 1833, dan kemudian dikembangkan menjadi teori pendidikan orang dewasa oleh pendidik Amerika Serikat, Malcolm Knowles (24 April 1913 -- 27 November 1997). Teori Knowles tentang andragogi dapat diungkapkan dalam empat postulat sederhana:
  1. Orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi dari pembelajaran yang mereka ikuti (berkaitan dengan konsep diri dan motivasi untuk belajar).
  2. Pengalaman (termasuk pengalaman berbuat salah) menjadi dasar untuk aktivitas belajar (konsep pengalaman).
  3. Orang dewasa paling berminat pada pokok bahasan belajar yang mempunyai relevansi langsung dengan pekerjaannya atau kehidupan pribadinya (Kesiapan untuk belajar).
  4. Belajar bagi orang dewasa lebih berpusat pada permasalahan dibanding pada isinya (Orientasi belajar).
Istilah andragogi telah digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara pendidikan yang diarahkan diri sendiri dengan pendidikan melalui pengajaran oleh orang. 

Setelah kita tau apa itu pedagogi dan andragogi, saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya yang terkait dengan pedagogi dan andragogi tersebut :)

Saya mengalami pedagogi dimulai pada saat saya masih TK hingga saya SMA. Dimana pada saat itu saya masih tergantung kepada guru. Saya masih menunggu perintah atau arahan dari guru untuk melakukan sesuatu. Contohnya saja pada saat saya masih TK, saya mengikuti apa yang diperintahkan guru seperti menggunting kertas atau menempel kertas tersebut. Pada saat itu juga saya memakai pakaian seragam untuk sekolah. Selain itu saya masih harus dibentuk belum bisa menjadi sumber belajar, karena pada saat itu sumber belajar masih berpatokan kepada guru. Orientasi dalam belajar juga berupa bahan ajar (subject-centered). Motivasi belajar saya masih dengan pujian dan tepuk tangan jika saya mendapat sebuat prestasi dan dengan hukuman jika saya melakukan kesalahan.

Selain pedagogi, saya juga sudah mengalami andragogi saat ini karena saya sudah memasuki perkuliahan. Dimana pada saat ini saya semakin mengarahkan diri saya, sudah tidak tergantung pada dosen. Pada saat ini juga saya sudah dituntut untuk berinisiatif sendiri untuk melakukan sesuatu tanpa perintah dari dosen. Di perkuliahan juga sudah tidak memakai pakaian seragam lagi, akan tetapi saya tetap dituntut untuk memakai pakaian yang sesuai dengan aturan yang ada dikampus saya. Orientasi dalam belajar juga sudah berupa tugas dan masalah (task for problem centered). Motivasi belajar saya saat ini berupa dorongan dari dalam diri saya sendiri. Yaitu jika saya ingin mendapat sesuatu yang baik maka saya harus melakukan sesuatu yang baik juga. Dan jika saya melakukan sesuatu yang tidak baik maka saya akan mendapatkan yang tidak baik pula. Jadi pada saat ini segala sesuatu itu tergantung dari dorongan dalam diri saya sendiri.


sekian pengalaman saya yang terkait dengan pedagogi dan andragogi. Terima kasih :)

Minggu, 20 April 2014

Observasi Sekolah

Evaluasi Terhadap Kinerja Kelompok

Diawal kami mengetahui tugas kelompok untuk observasi ke sekolah. Banyak hal yang kami pikirkan kedepan. Dimulai dari pembuatan izin observasi, apa yang harus dilakukan di sekolah tersebut, apa yang akan kami rekam sebagai data, apa yang hendak kami ketikan sehingga menjadi laporan yang bagus, dsb. Beberapa hal tersebut menjadi tanggung jawab kami guna menyelesaikan tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan. Kami harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai yang maksimal juga. Kami mulai berpikir untuk meningkatkan usaha pada tugas, gigih saat menghadapi rintangan yang mungkin terjadi dalam waktu observasi, dan fokus pada tujuan observasi sekolah. Kami menjadi termotivasi dengan sendirinya. Sesuai dengan Model motivasi Prestasi John. W. Atkinson (1958) yang mengidentifikasikan individu untuk berjuang meraih sukses atau untuk menghindari kegagalan sebagai faktor motivasi utama. Jika motivasi untuk sukses pada diri individu cukup tinggi, dia akan melakukan tugas – tugas untuk berprestasi. Tetapi jika disposisi untuk menghindari kegagalannya tinggi, individu akan menghindari  tugas sulit, yaitu dengan cara menolak atau mengelak dengan cara lain (Covington, 1992). Masing-masing dari kami sudah menyadari bahwa kami perlu berusaha dengan baik untuk mencapai suatu hasil yang baik.

Dari awal juga kami mulai membagi tugas antara lain :

  • Meminta izin kepada pihak sekolah : Yuha Nuraini.
  • Memberi surat izin ke sekolah : Westley, Yuha Nuraini, Delilah Wahyuni, Indah Sari, Rika Arcella Putri.
  • Melaksanakan observasi : Westley, Yuha Nuraini, Delilah Wahyuni, Indah Sari, Rika Arcella Putri.
  • Mengambil dokumentasi observasi : Westley, Yuha Nuraini
  • Mencatat sebagai laporan observasi : Delilah Wahyuni, Indah Sari, Rika Arcella Putri
  • Mencatat setting kelas dan setting sekolah : Westley, Yuha Nuraini, Delilah Wahyuni, Indah Sari, Rika Arcella Putri. 

Dengan pembagian tugas ini, kami dapat mengumpulkan data untuk observasi dengan cepat dan semaksimal mungkin. Dengan kata lain, setiap anggota kelompok punya tugas masing-masing, sehingga tugas pun dapat selesai tepat pada waktunya.

Selama proses perkuliahan mata kuliah pendidikan, kami juga diberi bekal pengetahuan yang banyak dari Dosen pengampu mata kuliah. Teori-teori serta contoh yang diberikan sangat membantu dalam proses kami melakukan observasi di SMA Kemala Bhayangkari I Medan. Penerapan proses dari hasil belajar teori kami terapkan sebagai dasar kami untuk mencari informasi dan mengerjakan observasi. Hal ini sama dengan yang dijelaskan oleh Gagne mengenai transfer belajar. Pada akhir belajar, pemahaman baru mengenai teori psikologi pendidikan diaplikasikan ke dalam situasi baru yaitu observasi dan akan dibentuk (dikonstruksi) untuk diingat kembali sehingga dapat digunakan di masa yang akan datang.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Evaluasi Hasil Observasi

Nama sekolah : SMA Kemala Bhayangkari I Medan
Alamat : Jalan K.H.Wahid Hasyim No.1M
Uang Sekolah :
  • Anak umum Rp. 215.000
  • Anak guru Rp. 160.000
  • Anak polisi Rp. 160.000
  • Uang sarana prasarana Rp. 1.000.000
Akreditasi sekolah : A
Jumlah kelas  : 13 kelas
Fasilitas sekolah          : Ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang TU, ruang BK, ruang kelas, ruang osis,ruang alat marcing band, lapangan basket, lapangan futsal, laboratorium fisika & elektronika, laboratorium bahasa, laboratorium biologi & kimia, laboratorium komputer, perpustakaan, mushola, aula, UKS, kantin, rumah penjaga sekolah, parkiran, pos satpam, kamar mandi, 4 buah infokus (2 buah dakam keadaan rusak), dan wifi.

Kelas observasi : X-3 ;       Lama observasi : 45 menit  
Mata pelajaran  : Fisika (materi : pemuaian)Jumlah siswa      : 28 siswa/32 total jumlah siswaBarang-barang yang ada dalam kelas : 35 buah kursi, 1 buah white board, 1 buah penghapus, 1 buah meja dan kursi guru, 1 buah lemari, 1 buah globe, 1 buah gambar presiden dan wakil, 2 buah gambar pahlawan, 3 buah peta (India, Asia Selatan, kekuasaan kerajaan Tarumanegara), 1 buah sistem periodik unsur-unsur, 1 buah TV, 1 buah DVD, 1 buah kipas angin, 1 buah jam dinding, dan 4 buah lampu.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Poin-poin Hasil Observasi :

  • Perencanaan pelajaran berupa teacher-centered, yaitu menciptakan sasaran behavioral, menganalisis tugas, dan menyusun taksonomi instruksional.
  • Adanya interaksi timbal balik antara murid dan guru yang berupa tanya jawab antara murid dengan guru
  • Keadaan siswa yang duduk dibelakang kurang fokus terhadap materi yang diberikan guru dan cenderung bercerita, sedangkan siswa yang duduk di depan lebih fokus dan serius terhadap materi yang diberikan guru.
  • Guru menerangkan materi dengan memberikan contoh yang dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga murid lebih mudah mengerti.
  • Guru mengajar dengan baik yang disertai sedikit humor sehingga siswa ikut berperan dan aktif terhadap pelajaran yang diberikan guru.
  • Guru yang cenderung mengajar disertai humor juga memiliki sisi negatif yang berupa murid tidak lagi takut terhadap guru dan merasa guru adalah teman sebaya nya sehingga rasa segan terhadap guru berkurang.
  • Ulangan diberikan kepada murid tiga kali dalam satu semester (2 bulan sekali).
  • Guru mengatakan bahwa murid kelas X sangat berbeda dengan murid-murid yang sebelumnya, karena 70%  murid masih tidak hapal dengan perkalian, inisiatif dan kreativitas siswa kelas X juga sangat kurang sekali dan rata-rata siswa kelas X masih membawa sifat SMP nya.
  • Penggunaan laboratorium dalam belajar-mengajar setiap pergantian materi baru yaitu kurang lebih 1 bulan sekali.
  • Laboratorium antara SMA dengan SMP jadi satu maka sangat mengganggu siswa dalam penggunaan laboratorium karena harus sesuaikan jadwal terlebih dahulu antara SMA dengan SMP, hanya laboratorium komputer saja yang terpisah antara SMA dengan SMP.
  • Penggunaan infokus dalam belajar-mengajar tergantung kebutuhan guru untuk menyampaikan materi.
  • Tata letak ruangan kelas kurang tepat karena dekat dengan lapangan futsal dan lapangan basket yang digunakan oleh siswa yang sedang berolahraga, sehingga keadaan kelas sangat terganggu oleh suara-suara siswa yang sedang berolahraga tersebut
  • Tata letak alat-alat belajarnya sudah cukup baik, tetapi susunan barang-barang yang ada di dalam kelas masih kurang rapi seperti adanya salah satu peta yang berada di lantai, dan susunan kursi yang kurang rapi
  • Siswa terbukti tidak peduli dengan kebersihan kelas, yaitu terdapat banyak sampah di dalam kelas
  • Terdapatnya tempat duduk di halaman sekolah, tetapi tempat duduk tersebut ditutupi oleh kendaraan-kendaraan siswa yang parkir sehingga tempat duduk nya tidak dapat dipergunakan dengan baik oleh siswa
  • Kebersihan halaman sekolah cukup bersih, tetapi kamar mandi dalam sekolah tidak bersih karena terdapat bau yang sangat tidak sedap dalam kamar mandi tersebut
  • Rumah ibadah yang ada dalam sekolah hanya mushola, yang di dalamnya terdapat sajaddah dan mukenah yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru
  • UKS pada sekolah beroperasi dengan baik, dan terdapat bidan yang bertugas di dalam UKS tersebut.

---------------------------------------------------------------------------------

Pembahasan hasil obervasi dengan menggunakan Teori :

Berdasarkan hasil pengamatan kami metode yang di berikan guru  saat menyampaikan materi sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh E.L Thorndike. Thorndike berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Hal ini sesuai dengan apa yang  digunakan guru ketika menyampaikan materi pemuaian lewat contoh dalam kehidupan sehari-hari. Guru tidak secara langsung menyampaikan pengertian pemuain kepada siswanya. Lewat contoh tersebut para siswa menganalisis serta mengembangkan penalarannya bahwa pemuain adalah bertambahnya ukuran suatu benda karena pengaruh perubahan suhu atau bertambahnya ukuran suatu benda karena menerima kalor.

Berdasarkan observasi yang telah kami lakukan di sekolah, terdapat analisis prilaku terapan yang berupa“Prompt” pada saat proses belajar-mengajar berlangsung.”Prompt”  adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respons itu akan terjadi. Sebagai contoh dari hasil pengamatan kami yaitu saat guru menjelaskan tentang materi(fisika:pemuaian) guru menanyakan contoh dari pemuaian yang murid lihat di kehidupansehari-harinya, kemudian murid sulit untuk mengatakan contoh tersebut sehingga guru melakukan sebuah“prompt”(tambahan isyarat) dengan cara guru mengatakan ciri-ciri spesifik dari contoh tersebut dan akhirnya dengan cepat murid menjawabnya.

Kami mengobservasi siswa kelas X SMA, sesuai tahap perkembangan kognitif menurut Piaget seusia murid ini termasuk kedalam tahap operasional formal. Dimana pada tahap ini remaja berpikir secara lebih abstrak, idealistis, dan logis. Tetapi belum secara keseluruhan siswa berpikir lebih abstrak, idealistis maupun logis.

Dalam periode perkembangan, siswa kelas X SMA termasuk kedalam periode perkembangan adolescence. Dimana pada periode perkembangan ini siswa mengalami perubahan fisik, semakin ingin bebas, dan mencari jati diri.

Dalam teori interferensi menyatakan bahwa kita lupa bukan karena kita kehilangan memori dari tempat penympanan, tetapi karena ada informasi lain yang menghambat upaya kita untuk mengingat informasi yang kita inginkan.

Berdasarkan hasil observasi kami teori interferensi tampak jelas terjadi pada siswa-siswa. Ketika guru bertanya tentang apa yang baru dijelaskan yaitu pengertian dari pemuaian, murid dapat menjawab.
Tetapi ketika guru menanyakan kembali apa pengertian dari pemuaian itu disaat guru sudah menambahkan penjelasannya yang berupa contoh dan rumus dari pemuaian, murid sudah tidak dapat mengingat kembali apa pengertian dari pemuaian tersebut.

Vygotsky mengatakan bahwa bahasa memainkan peran utama dalam perkembangan kognitif anak. Bahasa adalah sebentuk komunikasi lisan maupun tulisan yang didasarkan pada sistem simbol. Anak SMA kelas X rata-rata berusia 15 tahun, maka perkembangan bahasanya berupa dapat memahami karya sastra dewasa.
Berdasarkan hasil observasi kami, sekolah menggunakan perencanaan pelajaran teacher-centered. Yaitu menggunakan tiga alat umum yang berupa menciptakan sasaran behavioral, menganalisis tugas, dan menyusun taksonomi instruksional. 

KOMENTAR :


Yuha Nuraini (13-021)
Kelompok kami telah melakukan observasi di sekolah SMA Kemala Bhayangkari 1 Medan. Saya melihat keadaan murid di sekolah tersebut menurun dari tahun-tahun yang sebelumnya. Dimana pada saat ini murid-muridnya sudah tidak disiplin seperti dulu. Keadaan guru-guru yang terlalu membawakan diri seperti anak muda cenderung tidak disegani oleh muridnya. Dengan keadaan yang seperti itu seharusnya guru-guru harus tetap kelihatan tegas walaupun umur guru masih muda, agar murid segan dan menghormati guru selayaknya orangtua mereka. Dalam sekolah tersebut kami juga menemukan salah satu murid yang dapat dikatakan berbeda dengan murid yang lainnya. Murid tersebut tidak dapat menerima pelajaran seperti murid yang lainnya, sehingga guru harus mengajari murid tersebut dengan pelan-pelan dan lebih memberikannya perhatian hingga murid tersebut dapat menangkap pelajaran. Dengan keadaan yang seperti itu, murid tersebut pun sering di bully oleh teman-temannya. Tapi saya salut dengannya karena sangat ramah disaat kami datang kesekolah tersebut.
 Dalam pelaksanaan observasi ini saya turut senang karena pihak sekolah sangat ramah dan mengizinkan kelompok kami untuk melakukan observasi dalam rangka melaksanakan tugas observasi sekolah yang diberikan oleh Dosen pengampu pada mata kuliah Psikologi Pendidikan. Kepala sekolah, guru-guru, hingga murid-muridnya pun ikut serta membantu kami memberikan informasi untuk melengkapi data hasil observasi kami, sehingga pelaksanaan observasi ini berlangsung dengan lancar. Saya juga senang dengan kerjasama kelompok yang saling membantu dalam menyelesaikan tugas observasi sekolah ini, yang dimulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi dan laporan, sehingga tugas kami dapat diselesaikan dengan baik dan semoga kami dapat mencapai nilai yang maksimal dari tugas yang telah kami laksanakan ini. Terima kasih.

Westley (09-084)
SMA Kemala Bhayangkari I Medan perlu meninjau kembali Kurikulum yang tepat untuk seluruh murid. Selain melihat kinerja dari guru, masih banyak yang perlu dibenahi. Fasilitas sekolah seperti lampu, jaringan internet, bangku dan meja kelas, dan peralatan yang masih kurang untuk mendukung siswa belajar. Pihak sekolah juga perlu melihat ketegasan dan kedisiplinan  guru dalam mengajar sehingga murid mau terlibat seutuhnya dalam proses belajar mengajar. Pihak sekolah juga seharusnya dapat mengatur jam olahraga dengan jam belajar siswa. Lingkungan yang tidak kondusif juga menjadi salah satu faktor yang dapat menurunkan prestasi siswa.  Proses belajar mengajar siswa SMA Kemala Bhayangkari I Medan masih sama seperti yang saya lihat beberapa lalu. Namun disini saya membandingkannya dengan beberapa SMA di kota medan. Guru lebih banyak memberikan informasi dibanding dengan siswa. Siswa hanya mendengarkan guru. Padahal diharapkan bahwa siswa lebih aktif dalam kelas, sehingga ilmu yang didapatkan juga semaksimal mungkin.
            Saya secara pribadi cukup menikmati kunjungan kami ke SMA Kemala Bhayangkari I Medan, sambutan hangat dari kepala sekolah dan guru-guru yang ikut membantu serta siswa yang mau bekerja sama sehingga kami mendapatkan data hasil observasi ini. Akhir kata semoga kami dapat mencapai nilai yang maksimal dari tugas observasi ini. Terimakasih

Delilah Wahyuni (13-005)
Tugas observasi ini sangat menyenangkan karena baru  pertama kalinya saya melakukan observasi ke sekolah. Walaupun ada sedikit kendala saat kami melakukan observasi, secara keseluruhan tugas observasi ini berjalan cukup lancar. Kami melakukan observasi di SMA KEMALA BHAYANGKARI 1 MEDAN. Pihak sekolah cukup baik dan ramah sehingga memudahkan kami untuk melakukan observasi. Pada saat observasi kami menemukan bahwa  konsep E-learning  disekolah ini mulai diterapkan. Menurut saya konsep E-learning sangat bagus diterapkan  seiring dengan berkembangnya teknologi. Pada zaman sekarang ini setiap siswa sudah dituntut untuk menguasai teknologi. Dengan metode ini akan menambah  pengalaman dan wawasan  para siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Pada saat proses belajar mengajar para siswa juga cukup aktif dalam menanggapi materi yang disampaikan guru sehingga membuat suasana kelas tidak membosankan. Dengan adanya tugas observasi ini menambah pengalaman dan wawasan kami dalam proses pembelajaran.

Indah Sari (13-045)
Saya suka dengan cara mengajar gurunya  di dalam kelas, dimana guru tersebut mengikutsertakan para siswa untuk aktif belajar, memberi tanggapan atau pendapat, sehingga pikiran siswa juga ikut terbuka. Selain itu, guru-guru juga ramah dan tidak segan berbagi cerita tentang keadaan sekolah mereka. Di sekolah SMA Kemala Bhayangkari ini juga tidak membedakan murid-murid. Murid yang kita katakan seharusnya bersekolah di SLB, tetapi sekolah tersebut mau menerima nya dan memperlakukannya sebagaimana murid normal lainnya sehingga murid tersebut tidak merasa sendiri dan tertekan di sekolah itu. Saya kurang suka dengan sikap murid kepada gurunya, karena hamper semua guru yang ada disekolah itu masih tergolong muda, murid-murid jadi berkurang sopan dan santunnya dan menganggap guru mereka itu seumuran dengan mereka.

Rika Arcella Putri (13-093)
Berdasarkan hasil observasi yang kami lakukan di SMA Bhayangkari,Saya berpendapat bahwa kondisi yang ada di sekolah(termasuk fasilitas) sekolah belum dapat menjembatani proses belajar mengajar.Sebagai contoh,kondisi di luar kelas yang berisik yang berakibat pada terganggunya proses belajar mengajar yang ada di dalam kelas.Selain itu fasilitas yang dapat mempermudah proses belajar mengajar belum dapat digunakan secara efektif.contohnya di dalam kelas ada fasilitas berupa televisi yang dapat dipergunakan mempermudah murid memahai pelajaran karena Tv bisa menjadi media untuk ilustrasi gambar dan suara tetapi Tv tersebut belum dimanfaatkan sehingga terkesan Tv tersebut hanya sebuah pajangan kelas saja.Dari segi proses belajar mengajar,meskipun guru menjadi pusat pembelajaran tetapi murid juga aktif dalam proses belajar mengajar sehingga membuat suasana belajar mengajar menjadi hidup.
Saya rasa untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah tersebut fasilitas dan kondisi lingkungan harus dikondusifkan sehingga bisa mencapai proses pembelajaran yang efiisien,usaha lain yang dapat dilakukan adalah semua pihak yang terkait dengan sekolah harus berperan aktif dan saling bahu membahu meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah tersebut misalnya dengan membuat peraturan tentang disiplin (misalnya walaupun tidak ada guru berhalangan hadir murid harus tetap di kelas) selama proses belajar mengajar.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dokumentasi saat observasi :

Foto Kelompok 14

Terimakasih 

KELOMPOK 14
Ketua  : 
Yuha Nuraini (13-021)
Anggota  : 
Westley (09-084)      

Selasa, 15 April 2014

Kepribadian Binatang




Binatang juga punya kepribadian???

Psikologi kepribadian mulai berkembang pada akhir abad ke-19, setelah Charles Darwin menerbitkan teori evolusinya. Darwin mengubah total pandangan mengenai hakikat manusia dengan menyatakan bahwa semua spesies, termasuk manusia, telah berevolusi selama jutaan tahun, karena makhluk-makhluk yang paling sesuai dengan lingkungannya lah yang akan mampu bertahan hidup dan meneruskan keturunannya. Selama puluhan tahun, dampak utama dari teori evolusi terhadap psikologi kepribadian adalah bahwa teori ini telah membebaskan ilmuwan untuk memikirkan hakikat manusia dengan pendekatan yang ilmiah. Sebagai contoh, Sigmund Freud (yang mempelajari teori evolusi di sekolah kedokteran) mampu mengajukan konsep insting yang telah berevolusi yang tersembunyi di bawah pikiran sadar, dan Gordon Allport kemudian mampu mengagas subsistem-subsistem biologis yang tercermin dalam trait-trait kepribadian yang umum. Kita akan melihat bahwa teori evolusi mempunyai banyak dampak bagi psikologi kepribadian. Namun sebagai contoh bagaimana teori klasik bisa membentuk penelitian kepribadian masa kini. Sekarang kita akan membahas mengenai kepribadian binatang.

Banyak dari kita yang kerap mendeskripsikan anjing, kucing, dan bahkan ikan dengan kata sifat seperti ramah, agresif, pintar, perhatian, dan lain-lain. Namun apakah ini hanya antromorfisasi di mana kita dengan bodohnya menganggap binatang peliharaan mempunyai sifat-sifat manusia??? Nah, penelitian kepribadian modern memungkinkan kita untuk mulai menjawab pertanyaan seperti itu dengan cara yang ilmiah. Sebagai contoh, karena binatang pada umumnya tidak bisa memberikan laporan diri atau gambaran diri, studi mengenai kepribadian binatang kemudian menggunakan penilaian yang dilakukan manusia. Untungnya, penelitian kepribadian telah mengajarkan para peneliti bagaimana membuat penilaian yang reliabel (dapat direplikasi) dan bagaimana membuat penilaian yang valid (mengukur trait yang diteliti dan bukan pada hal-hal lain). Binatang juga dapat diberikan tes-tes eksperimental untuk melihat bagaimana mereka berespons ketika menghadapi situasi tertentu (seperti misalnya kompetisi untuk mendapatkan makanan). Kemudian diketahui bahwa ternyata penilai mempunyai kesamaan dalan penilaian mereka mengenai kepribadian binatang, khususnya pada dimensi dasar tertentu (Gosling, 2001).

Trait-trait mana yang banyak dinilai secara reliabel dalam studi binatang??? Sebuah analisis terhadap 19 studi mengenai faktor kepribadian berbagai spesies non-manusia (simpanse, gorilla, monyet, hyena, anjing, kucing, keledai, babi, tikus, ikan guppy, dan gurita) meneliti dimensi-dimensi dasar yang sering dilihat dalam studi kepribadian manusia. Hasilnya adalah bahwa dimensi Extroversion, Neuroticism, dan Agreeableness menunjukkan generalisasi lintas-spesies yang paling kuat (Gosling & John, 1999). (Dan seperti pada manusia, ekstroversi adalah dimensi yang paling reliabel). Lebih lanjut, binatang yang menunjukkan dimensi extroversion yang tinggi dan kerap bersosialisasi memang terlihat mempunyai interaksi yang lebih sering dan lebih baik dengan rekan-rekannya. Nyatanya, simpanse yang semacam itu adalah simpanse yang paling bahagia (seperti yang dinilai oleh penjaganya di kebun binatang), terutama jika mereka adalah simpanse yang dominan (King & Landau, 2003). Jadi, tampaknya masuk akal secara ilmiah untuk menggambarkan anjing anda sebagai anjing yang senang bersosialisasi, tenang, dan bersahabat, dan anjing tetangga sebagai anjing yang pemalu, neurotik, dan tidak dapat dipercaya (Gosling, Kwan, & John, 2003).

Sebagai catatan tambahan, kami tidak dapat menahan diri untuk menyebutkan bahwa selain Dr. Gosling (yang karyanya saya kutip), ilmuwan-ilmuwan lain yang berpengaruh di bidang ini bernama Brian Hare, Robin Fox, dan Lionel Tiger (yang jika di terjemahkan akan menjadi Brian si Kelinci, Robin si Rubah, dan Lionel si Macan).

Bacaan lanjutan :

Gosling, S. D. (2001). From mice to men: What can we learn about personality from animal research? Psychological Bulletin, 127, 45-86.

Gosling, S. D., Kwan, V. S.Y., & John O. P. A. (2003). Dog’s got personality: A cross-species comparative approach to personality judgments in dogs and humans. Journal of Personality & Social Phychology, 85, 1161-1169.