Minggu, 02 November 2014
Jumat, 20 Juni 2014
Motivasi, Pengajaran, dan Pembelajaran
Motivasi
adalah proses yang member semangat, arah, dan kegigihan perilaku.
Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi,
terarah, dan bertahan lama.Contoh pada Terry Fox. Mengapa Terry Fox
menyelesaikan larinya? Ketika Terry Fox masuk rumah sakit karena kanker,
dia berkata kepada dirinya sendiri bahwa jika dia bisa bertahan hidup
maka dia akan melakukan sesuatu untuk membantu mendanai riset kanker.
Jadi, motivasi dari tidakannya berlari itu adalah untuk memberi tujuan
bagi hidupnya dengan membantu orang lain yang mengidap kanker. Tindakan
Terry Fox dilakukan dengan semangat, punya arah (tujuan) dan gigih
(bertahan lama). Selama berlari melintasi Kanada, dia menjumpai banyak
rintangan. Tindakannya merupakan contoh dari bagaimana motivasi dapat
membantu kita bertahan dan mencapai sesuatu.Seperti
contoh Terry Fox,motivasi murid di kelas berkaitan dengan alasan di
balik perilaku murid dan sejauh mana perilaku mereka diberi semangat,
punya arah dan dipertahankan dalam jangka lama. Jka murid tidak
menyelesaikan tugas karena bosan, maka dia kekurangan motivasi. Jika
murid menghadapi tantangan dalam penelitian dan penulisan
makalah, tetapi dia terus berjuang dan mengatasi rintangan, maka dia
mempunyai motivasi besar. Motivasi dibagi menjadi dua yaitu motivasi
ekstrinsik dan motivasi intrinsik.
Motivasi Ekstrinsik adalah
melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk
mencapi tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif
eksternal seperti imbalan atau hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar
keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik.
Motivasi intrinsik adalah
motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri
(tujuan itu sendiri). Misalnya, murid mugkin belajar menghadapi ujian
karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu.
Murid berprestasi rendah dan sulit didekati
Jere
Brophy (1998) mendeskripsikan strategi untuk meningkatkan motivasi dua
jenis murid yang susah didekati dan berprestasi rendah ini: (1) murid
yang tidak semangat dan kurang percaya diri dan kurang bermotivasi untuk
belajar, dan (2) murid yang tidak tertarik atau terasing.
Murid yang Tidak Bersemangat ( kurang memiliki motivasi )
Murid jenis ini ada 3:
1. Murid Berprestasi Rendah dengan Ekspektasi Kesuksesan yang Rendah.
Murid
jenis ini perlu terus-menerus diyakinkan bahwa mereka bisa mencapai
tujuan dan menghadapi tantangan yang telah Anda tentukan untuk mereka
dan Anda perlu membantu mereka untuk mencapai sukses. Bantu mereka dalam
menentukan tujuan pembelajaran dan beri dukungan untuk mencapai tujuan
itu.
2. Murid dengan Sindrom Kegagalan.
Sindrom kegagalan adalah murid memiliki ekspektasi rendah untuk meraih kesuksesan dan menyerah saat menghadapi kesulitan awal.
Murid
dengan sindrom kegagalan tidak mau berusaha keras, sering kali
menjalankan tugas dengan setengah hati dan cepat menyrah saat pertama
kali menghadapi kesulitan.
3. Murid yang Termotivasi untuk Melindungi Harga Dirinya dengan Menghindari Kegagalan.
Beberapa
murid sangat ingin melindungi harga dirinya dan menghindari kegagalan
sehingga mereka tidak mau mengejar tujuan pembelajaran dan menjalankan
strategi pembelajaran yang tidak efektif .
Berikut ini beberapa strategi
untuk melindungi harga diri dan menghindari kegagalan mereka
1. Nonperformance. Taktik tidak mau mencoba (nonperformance)
ini antara lain: tampak ingin menjawab pertanyaan guru tetapi berharap
guru memanggil murid lain, menunduk di bangku agar tidak dilihat oleh
guru, dan menghindari kontak mata.
2. Berpura-pura.
Tingkah pura-pura yang lazim misalnya pura-pura bertanya meskipun
mereka sudah tahu jawabannya, menampakkan ekspresi pasif dan rasa ingin
tahu, dan menghindari perhatian selama diskusi kelas.
3. Menunda-nunda. Murid yang menunda belajar sampai menjelang ujian dapat menghubungkan kegagalan mereka pada manajemen waktu yang buruk.
4. Menentukan tujuan yang tak terjangkau. Dengan menetapkan tujuan setinggi-tingginya sehingga kesuksesannya menjadi mustahil.
5. “Kaki kayu akademik”.
Misalnya, murid mungkin mengaitkan hasil buruk ujian dengan kecemasan
yang dialaminya. Gagal karena cemas tampaknya tak seburuk jika gagal
karena tak mampu.
Martin
Covington dan rekan-rekannya mengsulkan sejumlah strategi untuk
membantu murid mengurangi kesibukannya melindungi harga dirinya dan
menghindari kegagalan:
- Beri murid ini tugas yang menarik dan memicu rasa ingin tahu mereka. Setelah keahlian mereka meningkat, naikkan tingkat kesulitan tugasnya.
- Buat sistem imbalan/hadiah sehingga semua murid—bukan hanya murid yang cerdas dan berprestasi saja—dapat memperoleh hadiah itu jika mereka mau berusaha keras.
- Bantu murid menentukan tujuan yang menantang namun realistis, dan beri mereka dukungan akademik dan emosional dalam rangka mencapai tujuan itu.
- Perkuat asosiasi antara usaha dan harga diri. Usahakan murid untuk berbangga atas usaha yang mereka lakukan dan minimalkan perbandingan sosial.
- Dorong murid untuk memegang keyakinan positif terhadap kemampuan mereka sendiri.
- Tingkatkan hubungan guru-murid dengan menekankan peran Anda yang akan membimbing dan mendukung usaha pembelajaran murid, bukan berperan sebagai figur otoriter yang mengontrol perilaku murid.
Kamis, 12 Juni 2014
Pedagogi dan Andragogi
Halo, kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang
pedagogi dan andragogi yang terkait dengan tugas dari mata kuliah psikologi
pendidikan :)
Sebelum saya ceritakan pengalaman saya, mari kita
bahas sebentar pengertian dari pedagogi dan andragogi. Apasih pedagogi dan
andragogi itu?
Paedagogi berasal dari bahasa
Yunani (παιδαγωγέω paidagōgeō; dari παίς país:anak dan άγω ági: ) atau paedagogia yang berarti pergaulan dengan
anak-anak. Di Yunani kuno, kata παιδαγωγός biasanya diterapkan pada budak yang mengawasi pendidikan anak
majikannya. Termasuk didalamnya mengantarkan ke sekolah (διδασκαλείον) atau tempat latihan (γυμνάσιον), mengasuhnya, dan membawakan perbekalannya (seperti membawakan alat
musiknya). Paedagagos berasal dari
kata “paid” yang artinya “anak” dan “agogos” yang artinya “memimpin atau
membimbing”. Darikata ini maka lahir istilah paedagogi yang diartikan
sebagai suatu ilmu dan seni dalam mengajar anak-anak. Dalam perkembangan
selanjutnya istilah paedagogi berubah menjadi ilmu dan seni mengajar. Paedagogi juga
merupakan kajian mengenai pengajaran, khususnya pengajaran dalam pendidikan
formal. Dengan kata lain, ia adalah sains dan seni mengenai cara mengajar di
sekolah.
Istilah andragogi diambil dari bahasa Yunani. andr dan agogo.
Andr artinya dewasa dan agogo berarti membimbing atau mengamong. Jadi,
andragogi adalah kegiatan membimbing atau mengamong orang dewasa. Sejak tahun
tujuh puluhan, andragogi diberi arti sebagai ilmu dan seni untuk membantu orang
dewasa belajar (andragogy is the science and arts of helping adults learn). Andragogi merupakan proses untuk
melibatkan peserta didik dewasa
ke dalam suatu struktur pengalaman belajar. Istilah ini awalnya digunakan oleh Alexander Kapp,
seorang pendidik dari Jerman, pada tahun 1833,
dan kemudian dikembangkan menjadi teori pendidikan orang dewasa oleh pendidik Amerika Serikat, Malcolm Knowles (24 April 1913 -- 27 November 1997). Teori Knowles tentang
andragogi dapat diungkapkan dalam empat postulat sederhana:
- Orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi dari pembelajaran yang mereka ikuti (berkaitan dengan konsep diri dan motivasi untuk belajar).
- Pengalaman (termasuk pengalaman berbuat salah) menjadi dasar untuk aktivitas belajar (konsep pengalaman).
- Orang dewasa paling berminat pada pokok bahasan belajar yang mempunyai relevansi langsung dengan pekerjaannya atau kehidupan pribadinya (Kesiapan untuk belajar).
- Belajar bagi orang dewasa lebih berpusat pada permasalahan dibanding pada isinya (Orientasi belajar).
Istilah andragogi telah digunakan untuk
menunjukkan perbedaan antara pendidikan yang diarahkan diri sendiri dengan
pendidikan melalui pengajaran oleh orang.
Setelah kita tau apa itu pedagogi dan
andragogi, saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya yang terkait dengan
pedagogi dan andragogi tersebut :)
Saya mengalami pedagogi dimulai pada saat saya
masih TK hingga saya SMA. Dimana pada saat itu saya masih tergantung kepada
guru. Saya masih menunggu perintah atau arahan dari guru untuk melakukan
sesuatu. Contohnya saja pada saat saya masih TK, saya mengikuti apa yang diperintahkan
guru seperti menggunting kertas atau menempel kertas tersebut. Pada saat itu
juga saya memakai pakaian seragam untuk sekolah. Selain itu saya masih harus
dibentuk belum bisa menjadi sumber belajar, karena pada saat itu sumber belajar
masih berpatokan kepada guru. Orientasi dalam belajar juga berupa bahan ajar
(subject-centered). Motivasi belajar saya masih dengan pujian dan tepuk tangan
jika saya mendapat sebuat prestasi dan dengan hukuman jika saya melakukan
kesalahan.
Selain pedagogi, saya juga sudah mengalami
andragogi saat ini karena saya sudah memasuki perkuliahan. Dimana pada saat ini
saya semakin mengarahkan diri saya, sudah tidak tergantung pada dosen. Pada saat
ini juga saya sudah dituntut untuk berinisiatif sendiri untuk melakukan sesuatu
tanpa perintah dari dosen. Di perkuliahan juga sudah tidak memakai pakaian
seragam lagi, akan tetapi saya tetap dituntut untuk memakai pakaian yang sesuai
dengan aturan yang ada dikampus saya. Orientasi dalam belajar juga sudah berupa
tugas dan masalah (task for problem centered). Motivasi belajar saya saat ini
berupa dorongan dari dalam diri saya sendiri. Yaitu jika saya ingin mendapat
sesuatu yang baik maka saya harus melakukan sesuatu yang baik juga. Dan jika
saya melakukan sesuatu yang tidak baik maka saya akan mendapatkan yang tidak
baik pula. Jadi pada saat ini segala sesuatu itu tergantung dari dorongan dalam
diri saya sendiri.
sekian pengalaman saya yang terkait dengan
pedagogi dan andragogi. Terima kasih :)
Langganan:
Postingan (Atom)